Ramadan dan Energi: Saatnya Menghentikan Israf untuk Masa Depan yang Lebih Adil

Membagikan

Tangkapan layar Diskusi daring TEB Talks Special Ramadan yang diselenggarakan oleh Transisi Energi Berkeadilan (TEB), bagian dari CERAH, berkolaborasi dengan GreenFaith Indonesia, pada Kamis sore, 5 Maret 2026

Jakarta — Bulan suci Ramadan tidak hanya menjadi momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga ruang spiritual untuk melatih pengendalian diri dari perilaku berlebihan atau israf. Nilai ini tidak hanya berlaku dalam konsumsi makanan dan minuman, tetapi juga relevan dengan cara manusia menggunakan energi dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi tersebut menjadi tema diskusi daring TEB Talks Special Ramadan yang diselenggarakan oleh Transisi Energi Berkeadilan (TEB), bagian dari CERAH, berkolaborasi dengan GreenFaith Indonesia, pada Kamis sore, 5 Maret 2026. Diskusi ini disiarkan melalui Instagram Live di akun @greenfaith.id dan menghadirkan Ustaz Niki Alma Febriana Fauzi dari GreenFaith Indonesia sebagai narasumber, dengan Annisa Dian Ndari dari TEB sebagai host.

Dalam pengantar diskusi, Annisa menegaskan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk belajar hidup sederhana dan menjauhi perilaku konsumtif. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-A’raf ayat 31 yang mengingatkan manusia untuk makan dan minum, tetapi tidak berlebihan karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

“Larangan israf tidak hanya dalam soal makanan atau minuman, tetapi juga dalam penggunaan sumber daya yang menopang kehidupan kita, termasuk energi,” ujarnya.

Sebagai Transisienergiberkeadilan.id Lead, ia menambahkan bahwa ironisnya energi yang digunakan manusia saat ini sebagian besar masih berasal dari sumber fosil seperti batu bara, minyak, dan gas. Penggunaan energi tersebut tidak hanya menghasilkan polusi udara, tetapi juga memicu emisi karbon yang memperparah krisis iklim.

Dampak dari krisis ini justru banyak dirasakan oleh kelompok masyarakat yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi, seperti masyarakat adat, petani, nelayan, dan komunitas rentan di berbagai daerah.

Ustaz Niki menjelaskan bahwa ajaran Islam sejak awal telah menekankan pentingnya menghindari perilaku berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya. Ia mencontohkan sebuah hadis yang menceritakan Rasulullah menegur seorang sahabat yang menggunakan air secara berlebihan saat berwudu.

“Bahkan jika seseorang berwudu di sungai yang airnya mengalir, Rasulullah tetap mengingatkan agar tidak menggunakan air secara berlebihan. Ini menunjukkan bahwa prinsip hemat dan tidak melampaui batas sangat kuat dalam ajaran Islam,” ujarnya.

Ustaz Niki menambahkan bahwa pesan tersebut sangat relevan dengan semangat Ramadan, yang mengajarkan pengendalian diri dan menjauhi sikap berlebihan. Menurutnya, nilai ini juga dapat diterapkan dalam penggunaan energi sehari-hari agar tidak jatuh pada perilaku israf atau pemborosan.

Selama ini, lanjutnya, kemajuan sering diidentikkan dengan pembangunan fisik yang masif dan penggunaan energi dalam jumlah besar. Padahal dalam perspektif Islam, kemajuan tidak selalu identik dengan kelimpahan konsumsi.

“Dalam ajaran Islam, kemajuan justru berkaitan dengan keseimbangan—keseimbangan antara manusia dan alam, antara kebutuhan dan keberlanjutan,” katanya.

Sebagai salah satu tim penyusun buku Fikih Transisi Energi Berkeadilan, Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki dua mandat sekaligus: memakmurkan bumi sekaligus menjaga keseimbangannya. Ketika sumber daya alam dieksploitasi tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan, keseimbangan tersebut akan terganggu dan memicu berbagai krisis ekologis.

Diskusi ini juga menyoroti bagaimana pola konsumsi masyarakat selama Ramadan kerap bertentangan dengan semangat pengendalian diri. Tidak jarang kebiasaan membeli makanan berlebihan saat berbuka puasa justru meningkatkan produksi sampah makanan.

Padahal Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk melatih kesederhanaan dan kesadaran dalam menggunakan sumber daya.

Menurut Ustaz Niki, perubahan menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan membeli barang sesuai kebutuhan, menghemat penggunaan listrik dan air, serta mengurangi pola konsumsi yang berlebihan.

Langkah kecil ini, jika dilakukan secara luas, dapat menjadi bagian dari upaya kolektif dalam menghadapi krisis lingkungan.

Namun ia menegaskan bahwa tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di tangan individu. Kesadaran kolektif perlu dibangun melalui keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, hingga kebijakan pemerintah yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan.

Transisi energi berkeadilan sendiri merupakan upaya untuk mengalihkan ketergantungan dari energi fosil menuju energi bersih yang lebih ramah lingkungan dan dapat diakses secara adil oleh seluruh masyarakat.

Melalui diskusi TEB Talks Special Ramadan ini, penyelenggara berharap nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ajaran agama dapat menjadi inspirasi untuk membangun kesadaran ekologis di tengah masyarakat.

Ramadan diharapkan tidak hanya menjadi momentum ibadah personal, tetapi juga ruang refleksi untuk membangun gaya hidup yang lebih sederhana, adil, dan berkelanjutan.

“Jika kita mampu mengurangi perilaku israf, termasuk dalam penggunaan energi, maka itu adalah langkah kecil menuju masa depan yang lebih sehat dan berkeadilan bagi semua,” ujar Annisa menutup diskusi.

Melalui forum ini, Transisi Energi Berkeadilan juga mengajak masyarakat untuk terus mengikuti berbagai informasi, riset, dan kampanye terkait energi bersih melalui media sosial @transisienergiberkeadilan serta situs resmi mereka.

Upaya kecil dari banyak orang, diyakini dapat menjadi kekuatan besar untuk mendorong perubahan menuju masa depan energi yang lebih bersih dan berkeadilan.

Keterangan: Poster diskusi daring TEB Talks Special Ramadan yang diselenggarakan oleh Transisi Energi Berkeadilan (TEB), bagian dari CERAH, berkolaborasi dengan GreenFaith Indonesia, pada Kamis sore, 5 Maret 2026

脱化石燃料へ世界が動く

また本会議に先立ち、GreenFaithのフレッチャー・ハーパー代表が中心的な仲介役となり、宗教団体による国際的な連携が形成されました。多様な宗教・地域をつなぐこの働きかけにより、宗教界としての共通の意思を示す土台が築かれ、声明の発信へとつながりました。...

防災と再エネ導入をめぐる国会議員との意見交換

4月24日、GreenFaith Japanは、協力宗教教団のご協力のもと、衆議院議員の中川宏昌氏および佐々木雅文氏と懇談の機会をいただきました。今回のテーマは、災害時に指定避難所となる宗教施設への再生可能エネルギー導入についてです。GreenFaith Japanが作成した要望書をお渡しし、それをもとに意見交換を行いました。...

2026年度 第二回グリーンフェイスジャパン・フェローシッププログラム

「みどりのドクターズ」は、気候変動をはじめとする環境問題をふまえた健康・医療のあり方を考え、医療従事者が主体となって気候変動対策を推進する日本初の団体です。医師や看護師、薬剤師など多職種が参加し、医療分野からの情報発信や実践に取り組んでいます。...